Sekilas kisah sebelumnya :
“Iya Mas, ceritanya kemarin kan ada kampanye partainya anak muda. Mereka bawa motornya kenceng banget pas lewat depan kompleks kita. Udah gitu ada sebagian yang masuk belok ke tempat kita. Kita semua kaget dan takut, trus pada lompat ke kebon bambu di belakang. Pas lompat, kaki Ningrum nginjak tunggak bambu. Gitu ceritanya yang benar Mas Bagus.” Cerita Titis dengan penuh semangat empat lima.
Kulihat Ningrum salah tingkah karena kebohongannya diuangkap sohib kentalnya sendiri. “Ya udah, gak apa – apa, yang penting ntar diolesi parem atau diurut, Mbak.” nasihatku kepada Ningrum.
Esoknya perusahaanku sudah mulai diliburkan. Ningrum main ke tempat kost-ku dan untuk pertama kalinya aku bicara berdua saja dengan Ningrum.
“Mas Bagus pemilu mau nyoblos di mana ?” Tanya Ningrum
“Kayaknya sih nyoblos di sini Mbak, saya kebetulan didaftar di sini.” Jawabku
“Mbak Ningrum mau nyoblos di Jawa apa dimana ?” tanyaku kemudian.
“Kebetulan pabrik tempat kami bekerja diliburkan untuk menyambut pemilu. Katanya pemilu di Jakarta suka rame ya Mas, saya takut jadinya saya mau ke Jawa aja pas liburan, mau ngungsi.” Jawab Ningrum sembari bergidik.
Gaya bicara dan pembawaan Ningrum yang lugu dan polos membuatku sangat gemas.
“Wah, lama dong ya liburannya ?” Tanyaku kemudian
“Paling lama seminggu koq Mas, habis itu balik lagi ke sini.” Jawab Ningrum tetap dengan gaya polosnya.
“Titis, Ainur, dan Sumiyati juga mau pemilu di Jawa katanya Mas. Mereka KTP nya Jawa.” Lanjut Ningrum.
“Wah berarti sepi dong ntar pas pemilu di sini ya ? Selorohku sambil tersenyum.
“Ya nggak sepi to Mas, kan nggak semua orang mudik pas pemilu. Mereka yang udah punya KTP sini pasti nyoblosnya juga di sini.” Kali ini Ningrum berkata sambil memonyongkan bibirnya, lucu sekali.
Aku sungguh menikmati percakapan dengan Ningrum.
“Oh ya, memang kampungnya Mbak Ningrum di mana ya ?” Tanyaku lagi.
“Jauh Mas, di Pantai Utara Jawa tengah.” Jawab Ningrum.
“Saya juga pernah ke daerah Pantai Utara Jawa Tengah, Mbak. Tapi udah lama sekali. Waktu saya masih SD, saya diajak orang tua saya ke Pantai Kartini di Jepara.” Ceritaku.
Kulihat Ningrum tersenyum. “Koq senyum, Mbak ?” tanyaku.
“Mbak Ningrum pernah ke Pantai Kartini di Jepara ?” tanyaku kemudian.
“Orang tua saya memang asli Jepara, Mas. Jadi ya sering ke Pantai Kartini.” Ningrum kali ini tertawa renyah, menampilkan deretan geliginya yang yang rapih putih bersih.
“Ooh …” aku Cuma melenguh karena malu.
“Trus rencananya, Mbak Ningrum sama teman – temannya mau berangkat ke Jawa kapan ?” selidikku.
“Insya Allah besok kami berangkat Mas, dari Pulogadung.” Jawab Ningrum.
“Oh ya Mas, maaf ya saya pamit dulu. Saya harus siap – siap buat besok.” Lanjut Ningrum.
“Ya udah, terimakasih Mbak Ningrum sudah menemani saya ngobrol.”
Entah mengapa aku merasakan kesepian bakal ditinggal adik – adikku terutama Ningrum. Kekonyolan Titis, dan Ainur. Gaya Sumiyati yang bak seorang ibu bagi Titis dan Ainur. Serta kepolosan dan keluguan Ningrum yang ayu, senyum Ningrum yang terkesan mahal namun renyah, dan cara berjalannya dua hari terakhir yang terpincang – pincang membuatku semakin gemas dan sedih bakal kehilangan semua, paling tidak untuk satu minggu ke depan. Kegalauan menyertaiku sepanjang siang hingga sore itu. Jarum jam menunjukkan pukul delapan lewat, ketika kudengar pintuku diketuk dari luar. Aku bergegas menyambut dan membukakan pintu. Kulihat Titis, Ainur dan Ningrum berada di hadapanku.
“Mas Bagus, kita mau pamit pulang kampung sebentar. Mas Bagus mau titip dibawain apa ya ?” Ucap Titis begitu kupersilakan masuk.
“Ya sudah, kalian hati – hati di jalan. Terserah kalian mau bawakan apa buat saya.” Jawabku singkat.
Sesaat mereka berada di tempatku dan kami mengobrol satu sama lain, hingga setengah jam kemudian Titis dan Ainur mohon pamit. Ningrum masih tinggal, “Mas Bagus bener tidak titip dibawain oleh – oleh ?” Ulang Ningrum.
“Ya sudah, kalau begitu saya dibawain oleh – oleh yang khas dari daerah Pantai Utara Jawa tengah saja.” Jawabku.
Kualihkan pandanganku ke kaki Ningrum, “Kakinya sudah baikan, Mbak ?” Tanyaku, yang dijawab langsung oleh Ningrum, “Sudah mendingan Mas, kemarin udah di balsam sama Sumiyati. Besok di kampung rencananya saya mau urutkan ke tukang urut, Mas.” Jawaban Ningrum sedikit membuatku lega.
“Ya sudah, sekarang istirahat. Hati – hati di jalan Mbak. Cepet sembuh ya kakinya.” Pesanku buat Ningrum.
“Baik Mas, kalau begitu saya pulang dulu.” Kuantar Ningrum sampai teras, dan aku menjadi semakin sedih dan merasa sepi.
Keesokan paginya kulihat mereka berangkat, aku sempat melambaikan tangan dari jendela kepada mereka. “Tuhan, lindungi perjalanan mereka berempat menuju kampung halaman mereka masing - masing. Jauhkan perjalanan mereka dan liburan mereka dari segala bahaya. Dan izinkan kami bertemu mereka semua kembali minggu depan dengan selamat dan sehat … Amin.” Doaku dalam hati.
–oOo–
Hari yang ditunggu pun tiba. Semarak dan antusiasme warga kampung tempatku tinggal begitu tampak memeriahkan acara lima tahunan ini. Gang – gang menjadi tampak begitu bersih, dan tanah – tanah lapang atau lahan kebun warga yang sebelumnya ditumbuhi ilalang sejak beberapa hari lalu telah berubah menjadi bersih dan rapih dengan dihiasi bilik suara dan bangku – bangku plastik untuk para warga yang akan menggunakan hak pilihnya. Pemilu 1997, ini kali kedua aku memperoleh dan menggunakan hak pilihku. Aku teringat kepada kawan – kawanku yang sedang berada di Jawa saat ini, sedang apa mereka ya ? Apa mereka juga sedang ada di TPS sepertiku sekarang ? Ningrum apa kakinya sudah sembuh dari keseleo ? Ya, bayangan wajah Ningrum kembali kubiarkan mengisi ruang benakku. Aku sungguh kangen dengannya. Entah mengapa, Ningrum begitu kuat menguasai perasaanku. Belum pernah aku merasakan hal ini kepada teman – teman perempuanku yang kukenal sebelumnya, entah teman kampus sewaktu aku kuliah di Jogja, sekalipun aku naksir padanya juga tidak pernah kurasakan hal seperti yang kurasakan kepada Ningrum. Ya, pokoknya aku menjadi begitu bahagia setiap kali bertemu, ngobrol ataupun sekedar membayangkan wajah ayu Ningrum.
Aku tiba kembali di tempat kostku. Kuraih kaset dan kumasukkan ke dalam mini compo, selang beberapa detik kemudian alunan suara Tommy Page ditemani Amy Mastura terdengar lembut menyenandungkan lagu The Best Part, menghadirkan suasana sejuk di kamarku “The best part of the morning is opening my eyes, Seeing you next to me make me realize, That all in my heart, You’re the best part …”
Sejenak kemudian aku terhenyak kaget oleh suara memanggilku. Ooh rupanya aku tertidur barusan. Di depan pintu kulihat Rasdi dan Mas Tody, mereka adalah junior dan seniorku di tempat kerja.
“Gus, hari Minggu kamu ada acara gak ? Ke tempatku ya.” Ajak Mas Tody
“Mau ada acara apa, Mas” tanyaku ke Mas Tody.
“Aku mau pindahan rumah, ada temanku yang meminjamkan rumahnya untuk kutinggali. Katanya sayang daripada kosong.” Mas Tody menambahkan
“Ooh, oke lah kalau gitu. Tapi aku dijemput ya.” Kataku
“Oke yoai. Aku jemput kamu besok Minggu jam setengah delapan pagi, Gus. Oh ya rumahnya gede lho, kamarnya tiga. Ntar kalau kamu mau boleh koq kamu ikutan tinggal disana, Gus.” Lanjut Mas Tody.
“Ya, bagaimana nanti sajalah. Yang penting Minggu besok kita bikin rapih dulu rumahnya.” Jawabku kemudian
“Gus, kita kita ke Circus yuk. Aku kangen sama Nasi uduknya.” Ajak Mas Tody
“Iya Gus, kita ke Circus. Mas Tody mau traktir kita sekalian syukuran mau pindahan besok Minggu.” Giliran Rasdi berkomentar.
“Giliran makan aja, kamu semangat Di. Dasar.” Ejekku.
“Ya sudah, aku mandi dulu deh. Kalian tunggu sebentar sambil nonton tivi atau nyetel radio di dalam.” Kataku sambil menuju ke kamar mandi.
Sesaat kemudian kami bertiga sudah melaju ke arah Circus. Circus adalah pusat jajan cukup lengkap yang bisa dibilang pujasera di kawasan timur kota Jakarta. Lumayan terkenal karena di area itu juga terdapat kompleks pertokoan yang biasa buat jalan – jalan para ekspatriat Boss pabrik yang banyak beroperasi di sana.
“Mas tolong pesen ayam gorengnya tiga, trus udang goreng sausnya juga tiga, tahu tempe gorengnya boleh juga. Nasinya … ehhm lima deh. Sama air jeruk panas tiga.” Mas Tody mulai memesan makanan.
“Jeruk panasnya dua aja, aku pesan teh manis Mas” ucapku kepada Pelayan.
“Baik Pak, ditunggu sebentar.” Jawab Pelayan
Tak lama semua pesanan sudah tersaji. Aku bingung juga kenapa Mas Tody pesan makanan sebanyak ini, trus berapa Mas Tody mesti keluar uang buat bayar semua makanan ini.
“Banyak banget.” Gumamku
“Sudah makan aja, santai aja. Ntar kalau kurang boleh nambah lagi. Pokoknya jangan malu deh kalau jalan atau makan sama Mas Tody, dijamin kenyang dan puas.” Kata Mas Tody menyadari kebingunganku.
Kulihat Rasdi sudah asyik dengan kelahapannya dan hampir habis satu potong ayam.
“Ayo makan, mantap banget rasanya.” Ucap Rasdi kepadaku.
Akupun mulai menikmati suasana sore itu di kompleks jajan tersebut. Kami makan sambil ngobrol ngalor ngidul bertiga tentang banyak hal.
“Mas udah, tolong tagihannya ya.” Mas Tody melambaikan tangannya kepada Pelayan.
“Jadi semua totalnya Tujuh Puluh Delapan Ribu Tujuh Ratus Lima Puluh Rupiah, Pak.” Kata Pelayan setelah selesai menghitung. Angka yang cukup besar di tahun 1997 hanya untuk beli makanan batinku.
Mas Tody mengeluarkan selembar seratusan ribu dan menyerahkannya kepada Pelayan. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Mall yang ada di kawasan itu setelah menerima uang kembalian.
Di pusat perbelanjaan cukup rame suasananya. Kami berputar – putar beberapa saat hingga akhirnya kami berhenti di toko sepatu. Kulihat Mas Tody mulai memilih dan mencoba beberapa sepatu sebelum akhirnya membeli sepasang sepatu. Mas Tody anak orang kaya di kampungnya di Solo, dan dia sangat peduli dengan penampilannya. Bisa dibilang mungkin istilah kerennya dia itu pria metroseksual lah.
Jam tanganku menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh menit ketika kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing – masing.
“Terimakasih Mas Tody” kataku mengakiri pertemuan hari itu.
“Sama – sama, besok Minggu kamu siap – siap aku jemput jam tujuh tiga puluh” Balas Mas Tody.
Mas Tody dan Rasdi menghilang bersama mobilnya di tikungan, dan aku langsung masuk kamar kostku.
Bersambung …
Salam gemilang
Benedict Agung Widyatmoko