Salam untuk Anda sekalian,
Sebelumnya :
Kulihat Ningrum keluar sambil meniriskan rambutnya yang basah selepas keramas dan hendak menjemur handuk. Buru – buru aku keluar dan kupanggil dia, dengan hati – hati tentunya. Ningrum pun mengetahui isyarat panggilanku dan sudah ada di depan kamarku kost-ku beberapa menit kemudian. Aku jadi terpana memandang Ningrum, dia nampak semakin ayu dengan rambutnya yang basah itu. “Ada apa Mas ?” Tanya Ningrum membuyarkan keterpanaanku kepadanya.
“Eh … Ya. Oh ya, ini hari Minggu kan ? Mbak Ningrum masih ingat jam berapa katanya temanku yang minggu kemarin kesini mau datang hari ini ?” Jawabku terbata – bata. “Ampun, cantik bener sih Ningrum,” batinku.
“Oh, itu. Kalau gak salah sih agak siangan sebelum adzan dhuhur Mas.” Jawab Ningrum.
“Masih lama berarti,” kataku. “Mbak Ningrum ntar jam setengah sebelasan aku tunggu di sini ya.” Lanjutku kemudian, yang dijawab Ningrum dengan anggukan.
Perasaanku jadi makin tidak karuan. Jantungku makin berdebar – debar saja membayangkan betapa berdosanya aku harus berbohong kepada orang yang sebenarnya tidak begitu bersalah kepadaku dengan resiko bakal membuatnya menjadi sedih, ditambah harus menyeret orang lain ke dalam lingkaran dosaku karena harus berbohong mengaku sebagai pacarku, atau lebih tepatnya memanfaatkan wanita untuk menyakiti perasaan seorang wanita lainnya. Lebih berdebar – debar lagi justeru karena perasaanku menuntut lebih dariku bejana yang melingkupi rasa dan batin di dalamnya, yaitu kenapa tidak sekalian saja Ningrum kuminta jadi pacarku sesungguhnya, kenapa hanya meminta dia untuk pura – pura jadi pacarku.
Kulihat jarum jam dinding menunjukkan posisi angka sepuluh, masih belum ada tanda – tanda kehadiran teman perempuanku. Tumben juga Titis & Co tidak menampakkan batang hidungnya ke tempatku, apa mereka sudah pada bosan dengan film India pikirku. Ah, mereka kan para adik yang baik, jadi tahu donk kalau kakaknya lagi gundah hatinya. Jadi sebagai adik yang baik tidak ingin mengganggu kakak yang sedang galau hatinya tentunya, kata batinku lagi menerka – nerka.
Hingga akhirnya jam sepuluh lewat tiga puluh menit, kudengar suara ketukan pintu dari luar sana. Dengan langkah gontai kuseret kakiku menuju pintu, sesaat aku ragu untuk membukanya. Hingga ketukan berikutnya membuat aku membukanya …. Seraut wajah manis telah berdiri di seberang pintu.
“Mas … Mas Bagus, jangan bengong gitu donk.” Celetuk Ningrum sambil menggoyang – goyangkan telapak tangannya di hadapan wajahku.
“Eh … Ehm, maaf Mbak. Saya kaget dan bingung … soalnya saya harus mengajak Mbak Ningrum untuk berbuat dosa hari ini dengan pura – pura mengaku jadi pacar saya.” Jawabku sedikit berbohong.
“Tidak apa – apa, tadi saya juga sudah berdoa koq Mas, memohon seandainya perbuatan saya nanti ini adalah dosa, saya memohon agar dosanya dibebankan kepada Mas Bagus semuanya hehehe,” Ningrum terkekeh. Dan kami pun tertawa bersama.
“Mari, silakan masuk Mbak.” Kataku mempersilakan Ningrum untuk masuk.
“Oh, ya … Titis, dan yang lainnya tidak kelihatan kemana ?” tanyaku berbasa – basi.
“Mereka bertiga sedang jalan – jalan Mas, mau cari buku resep bikin kue .” Jawab Ningrum.
“Oo …” gumamku singkat.
Selanjutnya suasana menjadi hening. Aku mencoba mengurangi ketawaran suasana dengan menawarkan remote tivi kepada Ningrum kalau – kalau dia ingin pindah channel atau saluran siaran yang lain, ataupun menawarkan minum dan makanan ringan. Ningrum yang biasanya renyah dan sering melontarkan banyolan – banyolan, kali ini terlihat pendiam dan seperti kurang nyaman.
Setengah jam berlalu dengan keheningan, tamu yang ditunggu masih belum juga menampakkan diri. Seperempat jam berikutnya masih tetap sama … berdua dalam kediaman. Hingga akhirnya jarum jam dinding menunjukkan pukul dua belas lebih tiga puluh menit, dan kupikir Ningrum harus menunaikan shalat Dhuhur. ‘Aku harus bertindak sekarang sebelum Ningrum pulang untuk shalat, ini saat yang tepat,’ begitu kata batinku mendorong semangatku.
Kutetapkan niat dan kurangkai segenap keberanian, aku beranjak dari dudukku dan aku tutup tirai kamar serta kurapatkan pintu. Kulihat Ningrum sangat kaget dengan apa yang aku lakukan, namun dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
“Ada apa Mas, Mas Bagus mau apa ?” Tanya Ningrum dengan penuh kecemasan ketika aku sudah kembali ke posisi dudukku kembali.
“Maaf, Mbak Ningrum. Saya hanya ingin menebus dosa saya hari ini.” Kataku
“Maksud Mas Bagus apa ?” Lanjut Ningrum
Aku terdiam, kurasakan tenggorokanku menjadi tercekat sulit mengeluarkan suara. Dan kurasakan butir – butir peluh mulai menyembul dari pori – poriku dan mengalir di sekujur tubuhku. Aku masih belum bisa bersuara dan peluh makin membasahi pakaian dan pantalon yang kukenakan.
“Mbak Ningrum ….. “ suaraku akhirnya keluar.
“Waktu itu saya meminta Mbak Ningrum untuk pura – pura jadi pacar saya. Dan entah mengapa saya sungguh merasa bahagia saat Mbak Ningrum bersedia menjadi pacar bohong – bohongan untuk saya.” Aku terus berbicara tetap dengan tetesan peluh mengaliri seluruh permukaan kulitku, membuatku makin menjadi tidak nyaman.
“Saya ikhlas koq Mas pura – pura jadi pacarnya Mas Bagus.” Balas Ningrum sesaat kemudian
“Maksud saya bukan itu … saya tahu Mbak Ningrum berniat baik dan tulus.” Aku kembali terdiam sesaat lamanya.
“Maksud saya, saya sangat senang bisa kenal dengan teman – teman yaitu Titis, Ainur, Sumiyati dan juga Mbak Ningrum. Sudah enam bulan kita bersahabat dan saya sangat menikmati hubungan ini.” Kataku melanjutkan.
“Saya juga senang koq Mas, diberi kesempatan bertemu dengan Mas Bagus. Mas Bagus orangnya baik, dan bahkan saya sudah anggap Mas Bagus itu seperti kakak saya sendiri.”
‘Apa ? sudah seperti kakak sendiri ? Mati aku !’ aku begitu kaget mendengar pengakuan jujur dari Ningrum. Untung aku masih bisa menguasai diriku sehingga umpatan kekagetanku itu tidak meluncur dari mulutku dan hanya tertahan dalam batin saja.
“Maksud saya Mbak … maaf saya koq jadi gugup begini ya ?” kataku sambil sedikit bercanda untuk mengembalikan kepercayaan diriku sembari menyeka keringat yang makin membuat bajuku jadi berat.
“Maksud saya, kita kan sudah kenal sejak bulan Januari lalu dan sekarang sudah bulan Juni akhir. Sudah setengah tahun kita bersahabat dan selama ini juga saya merasakan hubungan yang semakin erat di antara kita. Saya sangat senang akan hal ini.” Kataku.
Kulihat Ningrum mengernyitkan dahi, “Maaf, saya tidak ngerti maksud perkataan Mas Bagus.” Ningrum berkata sesaat kemudian. Aku bisa menangkap gerak senyum yang tersembunyi di balik kulit wajahnya yang bersih itu. Aku tahu dia sudah bisa menangkap maksudku, hanya saja dia masih ingin “membuatku mandi keringat” lebih lama lagi. Dan dia berhasil !
“Ehm … Eh, … maksud saya, saya sangat menikmati dan sungguh bahagia atas persahabatan di antara kita selama setengah tahun ini.” Makin deras kurasakan cucuran peluh di tubuhku.
“… dan saya ingin ….. kita lebih dari sekedar sahabat. Dan bukan hanya sekedar pura – pura pacaran. Saya ingin Mbak Ningrum dan saya memiliki hubungan yang lebih erat lagi dan istimewa.” Kataku mengakhiri pertempuran batin.
Selesai mengucapkan kata terakhir kurasakan aku mengalami kebasahan sangat hebat, benar – benar basah. Tapi plong rasanya. Aku sudah tidak berpikir lagi apa jawaban yang akan diberikan oleh Ningrum atas peromohonanku barusan. Yang kurasakan hanyalah kelegaan yang luar biasa.
“Mas Bagus serius dengan kata – kata Mas ?” Tanya Ningrum dengan hati – hati.
“Ya, saya sangat serius. Dan bahkan bila Mbak Ningrum meminta saya untuk menikahi Mbak Ningrum besok, saya akan dengan senang hati mengabulkannya.” Kali ini aku menjawab pertanyaan Ningrum dengan lancar dan mantap, tanpa ada lagi tetesan keringat.
“Tolong Mas Bagus pertimbangkan lagi. …
Bersambung,
Salam gemilang,
Benedikt Agung Widyatmoko