Aku

18 Jan 2010

Salam untuk Anda semua,

06_waiting Kawanku mewartakan, kata dia aku dicela mereka.

Aku tersenyum.

Kau disalahkan olehnya, kata kawanku lain.

Aku tersenyum.

Kawan dari kawanku mendesak, bertindaklah setidaknya sanggahlah.

Aku tersenyum.

Kawan-kawanku berujar,

Hai, mengapakah kau tersenyum ?

Mengapakan kau tidak menjawab ?

Mengapakan kau tiada melawan ?

Mengapakah kau tiada membela diri ?

Aku tersenyum.

Hai kawan-kawanku, bukanlah kuasaku menjawabi mereka,

bukanlah kuasaku membela diri, tiada kuasaku melawan, tiada kuasaku menghakimi mereka.

Kata dan laku mereka atasku itulah keyakinan mereka.

Layaknya angka 9, berkali-kali kita mengalikannya dengan berbagai angka, dengan berapa pun digitnya. Perhatikanlah angka hasil perkaliannya pasti akan kembali lagi kepada 9 bila dijumlahkan.

Tidak terbantahkan.

Itulah sifat keyakinan, tiada bisa dipertentangkan dengan beragam dalih dan dalil atau pun teori.

Bila kumenolaknya, sama halnya aku memaksa mereka mempercayai keyakinanku.

Tidak mungkin.

Kau sudah tahu, mengapakah masih saja resah dan membiarkan amarah menghiasi hatimu ?

Biarlah engkau bertumbuh dengan keyakinanmu, demikian pun mereka.

Semua ada masanya.

Bila keyakinanmu salah pastilah pencerahan dan masa akan menuntunmu kepada pembenaran.

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko


TAGS


-

Author

Search

Recent Post